Lidahku,
Sudah terbiasa melakukannya
Bertahun-tahun, berjilid-jilid.
Lidah mereka,
Begitu aneh terdengar di kuping
...
Aneh!
Itu saja.
Selasa, 07 Januari 2014
Minggu, 29 Desember 2013
Tiga Empat
Memaknai kamu dalam hidupku,
Wahai usia.
Berapa kah kamu sekarang?
Apakah itu penting?
Sebanding kah dengan apa yang sudah terjadi selama angka itu?
Oh ... ya ... mungkin.
Tiga empat,
Sudah ...
Mari kembali menata segalanya.
Wahai usia.
Berapa kah kamu sekarang?
Apakah itu penting?
Sebanding kah dengan apa yang sudah terjadi selama angka itu?
Oh ... ya ... mungkin.
Tiga empat,
Sudah ...
Mari kembali menata segalanya.
Jumat, 20 Desember 2013
Reformasi Hidup
Suatu hari seorang tua bertanya padaku,
Tentang dia yang kemudian menghilang.
Aku menjawabinya dengan senyum,
"Kita butuh reformasi hidup, Tua ..."
Kemudian seorang tua itu tercenung
Mungkin juga kepalanya tercenut-cenut
Pusing kepalanya mendengar jawabanku
Aneh ... desisnya.
Apalah yang bisa si Tua pahami?
Mungkin ia telah pahami begitu banyak perkara
Tetapi yang satu ini,
Cukup rumit untuk ditelaah oleh serat-serat uban dalam otaknya
Bahwa kita mungkin sanggup melakukan keajaiban,
Atau melakukan kemunafikan,
Atau juga melakukan kejujuran dengan berani,
Hanya karena kita menganggap dia yang kemudian menghilang itu sebagai saudara.
Ya, hanya itu ...
Sayangnya, dia yang kuanggap saudara
Mengganggapku sebagai manusia yang suka sewot
Menyampuri urusannya ...
Dan marahlah aku.
Tidak kah dia pikir aku mungkin tak akan sewot bila tak mau namanya tercoreng?
Panas kupingku mendengar orang-orang,
Betapa mereka menertawainya!
Aku sewot padanya, bukan pada orang-orang yang menertawainya
Karena, sekali lagi, dia lah yang kuanggap saudara, bukan orang-orang itu ...
Ah, sudahlah.
Sudah terjadi ... tetapi aku berani karena kejujuran adalah keberanian.
"Kita butuh reformasi hidup, Muda ... kau benar"
Ah! Si Tua sudah paham rupanya ...
Tentang dia yang kemudian menghilang.
Aku menjawabinya dengan senyum,
"Kita butuh reformasi hidup, Tua ..."
Kemudian seorang tua itu tercenung
Mungkin juga kepalanya tercenut-cenut
Pusing kepalanya mendengar jawabanku
Aneh ... desisnya.
Apalah yang bisa si Tua pahami?
Mungkin ia telah pahami begitu banyak perkara
Tetapi yang satu ini,
Cukup rumit untuk ditelaah oleh serat-serat uban dalam otaknya
Bahwa kita mungkin sanggup melakukan keajaiban,
Atau melakukan kemunafikan,
Atau juga melakukan kejujuran dengan berani,
Hanya karena kita menganggap dia yang kemudian menghilang itu sebagai saudara.
Ya, hanya itu ...
Sayangnya, dia yang kuanggap saudara
Mengganggapku sebagai manusia yang suka sewot
Menyampuri urusannya ...
Dan marahlah aku.
Tidak kah dia pikir aku mungkin tak akan sewot bila tak mau namanya tercoreng?
Panas kupingku mendengar orang-orang,
Betapa mereka menertawainya!
Aku sewot padanya, bukan pada orang-orang yang menertawainya
Karena, sekali lagi, dia lah yang kuanggap saudara, bukan orang-orang itu ...
Ah, sudahlah.
Sudah terjadi ... tetapi aku berani karena kejujuran adalah keberanian.
"Kita butuh reformasi hidup, Muda ... kau benar"
Ah! Si Tua sudah paham rupanya ...
Minggu, 01 Desember 2013
Welcome December!
This is our December
Cheers, love, smile, happy
Because December always give us a new energy
To facing life ...
Reborn ...
Welcome December,
Our December!
Cheers, love, smile, happy
Because December always give us a new energy
To facing life ...
Reborn ...
Welcome December,
Our December!
Sabtu, 30 November 2013
Label
Cinta itu seumpama panganan dalam stoples kaca
Berbaris di atas rak
Dan kau melabeli-nya :
... Kemarau
... Hujan
... Dingin
... Angin
Kau pasti termangu, lama
Di depan stoples berlabel : kemarau.
Ketika cinta seperti ikan kering
Dengan bau tak sedap
Kau tersenyum simpul
Di depan stoples berlabel : hujan.
Ketika cinta begitu basah
Ketika hidup begitu bersajaha
Kau menggigil di depan stoples berlabel : dingin.
Terus, terus kau menggigil
Merasakan dinginnya menusuk tulang
Sakitnya hingga membuat kau tewas dalam hidup
Dan kau kembali tersenyum, lama mengingat
Tentang angin di depan stoples berlabel itu,
Bahwa angin pun dapat membawa pesan untuknya,
Untuk dia yang kau cinta.
Berbaris di atas rak
Dan kau melabeli-nya :
... Kemarau
... Hujan
... Dingin
... Angin
Kau pasti termangu, lama
Di depan stoples berlabel : kemarau.
Ketika cinta seperti ikan kering
Dengan bau tak sedap
Kau tersenyum simpul
Di depan stoples berlabel : hujan.
Ketika cinta begitu basah
Ketika hidup begitu bersajaha
Kau menggigil di depan stoples berlabel : dingin.
Terus, terus kau menggigil
Merasakan dinginnya menusuk tulang
Sakitnya hingga membuat kau tewas dalam hidup
Dan kau kembali tersenyum, lama mengingat
Tentang angin di depan stoples berlabel itu,
Bahwa angin pun dapat membawa pesan untuknya,
Untuk dia yang kau cinta.
Rabu, 20 November 2013
Setapak
Dahulu,
Kaki berdebuku menyusurinya
Lembab, rasanya seperti menginjak bubur
Dahulu,
Ubun-ubunku dilindungi dedaunan
Sejuk, rasanya seperti ditiup angin senja
Dahulu,
Aku bertemu roda-roda berputar dari sepeda ontel para tua
Mengingatkanku tentang para Pastur berdarah Belanda
Dahulu, yang kini semuanya musnah
...
Kecuali satu!
Ya, satu!
Kenangan ciuman kita di setapak ini
Selalu ada.
Kaki berdebuku menyusurinya
Lembab, rasanya seperti menginjak bubur
Dahulu,
Ubun-ubunku dilindungi dedaunan
Sejuk, rasanya seperti ditiup angin senja
Dahulu,
Aku bertemu roda-roda berputar dari sepeda ontel para tua
Mengingatkanku tentang para Pastur berdarah Belanda
Dahulu, yang kini semuanya musnah
...
Kecuali satu!
Ya, satu!
Kenangan ciuman kita di setapak ini
Selalu ada.
Senin, 11 November 2013
Di Kumismu
Aku gemas,
Melihat kumismu yang begitu itu ...
Di kumismu,
Ada buih cappuccino,
Laksana buih ombak di tepi pantai ...
Dan aku ... ingin melengketinya
Melihat kumismu yang begitu itu ...
Di kumismu,
Ada buih cappuccino,
Laksana buih ombak di tepi pantai ...
Dan aku ... ingin melengketinya
Langganan:
Postingan (Atom)
Cinta Bukan Untuk Main-Main
Kemarin ja'o baca de pung status WA "Tidak Pernah Dihargai" Ja'o langsung tertawa Karena, kapan de pernah mengh...