Senin, 13 Mei 2013

Twister

Setiap hari ada twister.
Di hatiku...
13 Mei, ada twister.
Di hatiku...
13? Kenapa dengan 13?
Ah ... itu hanya tanggal ketika aku menulis ini.

Sabtu, 04 Mei 2013

Jangan

Ayo. Maju. Kau mau 'kan?

Jangan. Kau tidak mau.

Kau mau ... ayolah!

Jangan. Kau tidak mau!

Kenapa? Kau ragu? Hei, setiap masa menyimpan jawabannya masing-masing. Kau harus mencoba.

Jangan. Jangan sakiti lagi dirimu sendiri.

Lantas kau mau hidup dalam asumsi yang ... bisa saja keliru?

Mungkin. Kenapa tidak?

Kau pesimis yang miskin dan kafir pada perasaan sendiri!

Tidak mengapa ... setidaknya ada yang dapat kunikmati.


***monolog aneh

Rabu, 01 Mei 2013

Welcome, Mei!

Welcome, Mei!

Perlukah kuambilkan secangkir kopi untukmu, Mei?
Apakah kau membutuhkannya?
Perlukah kupanggang roti-roti cantik untukmu, Mei?
Apakah kau menginginkannya?
Atau ... perlukan aku bercerita padamu, Mei?
Tentang harapan anak-anak itu?
Mungkin tak perlu... karena... apakah kau mau mendengar?

Semua yang ingin kulakukan rasanya tidak perlu
Kau begitu diam ...
Kau lah yang akan menyiapkanku secangkir kopi,
Juga roti-roti cantik nan harum, juga tentang harapan.

Welcome, Mei.
We always have a big hope for life ...

Selasa, 30 April 2013

Liku Liku

Masih jalan yang sama
Berliku-liku,
Berlobang-lobang,
Berkelok-kelok,
Bertemu kuda,
Juga bertemu kambing, babi, bebek dan ular

Masih jalan yang sama
Ketika perasaan ini bermula
Seperti sungai aneh yang ada di muka bumi
Ada hulu tapi tak ada hilir

Masih jalan yang sama
Aku selalu menunggu ...

Selasa, 16 April 2013

Ke Mana?

Ke mana?
Itu pertanyaan untuk kau
Mungkin gigi telah mengatup
Sehingga lidah terkunci untuk menjawab

Ke mana?
Daun tidak tahu hendak dihantar ke mana oleh angin
Tapi perasaan ... setidaknya ...
Setidaknya perasaan punya firasat

Ke mana?

Entah!

Sabtu, 06 April 2013

Hanya

Hanya sekadar ingin bertanya ...

Tentang kabarmu ...

Tentang apa yang sendang kau perbuat ...

Tapi tidak ingin tahu ...

Tentang siapa yang sedang kau pikirkan.

Kamis, 04 April 2013

Bacalah!

Sudah kukirimkan hatiku untukmu ...
Apa? Tak sampai?
Mungkin kurirnya memotong jalan,
Mungkin juga perangkonya kadaluarsa,
Atau alamatnya tak ber-kode pos.

Sudahlah, kukirimkan saja puisi ini untukmu ...
Apa? Tak terbaca juga?
Kacamatamu belum diupgrade?
Atau?

Ah ... dan aku hanya terdiam saat kau bilang,

"Jangankan untuk menerima hatimu, membaca saja aku tak bisa."

Lalu aku harus bagaimana?
Mungkin aku perlu mengirimu uang,
Untuk kau bersekolah dan belajar membaca ...
Atau kukirimi kau sebentuk frontal yang menggerus kehidupanmu hari demi hari.

Tapi itu pun tidak adil.

Jadi?

Apanya yang jadi! TIDAK JADI! Titik!

*kemudian hening* ;))

Cinta Bukan Untuk Main-Main

Kemarin ja'o baca de pung status WA "Tidak Pernah Dihargai" Ja'o langsung tertawa Karena, kapan de pernah mengh...