|

Liku Liku

Masih jalan yang sama
Berliku-liku,
Berlobang-lobang,
Berkelok-kelok,
Bertemu kuda,
Juga bertemu kambing, babi, bebek dan ular

Masih jalan yang sama
Ketika perasaan ini bermula
Seperti sungai aneh yang ada di muka bumi
Ada hulu tapi tak ada hilir

Masih jalan yang sama
Aku selalu menunggu ...
|

Ke Mana?

Ke mana?
Itu pertanyaan untuk kau
Mungkin gigi telah mengatup
Sehingga lidah terkunci untuk menjawab

Ke mana?
Daun tidak tahu hendak dihantar ke mana oleh angin
Tapi perasaan ... setidaknya ...
Setidaknya perasaan punya firasat

Ke mana?

Entah!
|

Hanya

Hanya sekadar ingin bertanya ...

Tentang kabarmu ...

Tentang apa yang sendang kau perbuat ...

Tapi tidak ingin tahu ...

Tentang siapa yang sedang kau pikirkan.
|

Bacalah!

Sudah kukirimkan hatiku untukmu ...
Apa? Tak sampai?
Mungkin kurirnya memotong jalan,
Mungkin juga perangkonya kadaluarsa,
Atau alamatnya tak ber-kode pos.

Sudahlah, kukirimkan saja puisi ini untukmu ...
Apa? Tak terbaca juga?
Kacamatamu belum diupgrade?
Atau?

Ah ... dan aku hanya terdiam saat kau bilang,

"Jangankan untuk menerima hatimu, membaca saja aku tak bisa."

Lalu aku harus bagaimana?
Mungkin aku perlu mengirimu uang,
Untuk kau bersekolah dan belajar membaca ...
Atau kukirimi kau sebentuk frontal yang menggerus kehidupanmu hari demi hari.

Tapi itu pun tidak adil.

Jadi?

Apanya yang jadi! TIDAK JADI! Titik!

*kemudian hening* ;))

 
Jump To Top