|

Memaknai Hujan

Tentang mereka yang bersuka
Karena hujan mengantar suasana romantis

Tentang mereka yang berduka
Karena hujan mengantar banjir hingga tanah pun sulit dipijak

Tentang mereka yang aneh
Karena hujan adalah saatnya mengembara bersama lamunan

Tentang mereka yang selalu mengeluh
Hujan, "kenapa hujan?"
Panas, "kenapa tidak hujan?"

Tentang mereka yang menganggap hujan adalah milik mereka sendiri
Karena hujan adalah milik kami, orang-orang romantis, orang-orang puitis, orang-orang yang menonton rinai hujan ditemani segelas kopi.
Dan orang lain tidak?
Ah ...

Tentang hujan, dan aku memaknainya dalam senang
Karena, ketika aku mengeluh, aku tidak membuat perubahan sama sekali.
|

Bahasa Cinta

Mereka selalu bilang,
Tentang bahasa cinta,
Lantas mereka bernyanyi,
Lagunya ... bahasa cinta.

Apakah cinta itu hanya untuk mereka?
Laki-laki dan perempuan sahaja ...?

Bahasa cinta,
Kalau aku mendefenisikan bahasa cintaku,
Kau akan pingsan, teman

*gagal puitis* :D
|

Kau, Lelaki

Setahun terakhir aku bertanya-tanya,
Apa yang kau takutkan, wahai Lelaki?
Apa yang kau tunggu?
Apa yang kau rasa?
Apa yang kau mainkan?

Apakah kau takut marga keluargamu tercoreng?
Atau ... kau takut harta keluargamu terbagi-bagi?
Mungkin kau takut hidup mandiri?
Mungkin kau takut menghadapi kenyataan.

Apakah kau menunggu waktu yang tepat?
Atau ... kau tunggu perempuang yang tepat?
Mungkin kau menunggu yang tidak perlu ditunggu.
Mungkin kau akan terus menunggu.

Apakah kau juga pernah merasakan cinta?
Atau ... kau merasakan pedihnya karena cinta?
Jadi kau bermain-main dari satu drama, meloncat ke drama lainnya,
Menunggu drama yang baru dimulai.

Apakah kau suka bermain-main?
Atau ... kau lebih suka dipermainkan?
Mungkin kau suka dipermainkan, karena kau terlalu pengecut untuk mengakui.
Bahkan, setelah kita sedekat itu merengkuh kesenangan.

Lelaki,
Kau bukan si pemberi tawa,
Kau bukan dia yang selalu membuatku tertawa, yang padanya ingin kugantung cintaku.
Tapi, kau juga mampu membuatku tertawa, dengan kepolosanmu yang palsu.
Lelaki ... kau pengecut.
Dan andai kau tidak sepengecut itu ...

Kau bilang ini rahasia kita,
Padahal kau tidak perlu merahasiakannya.
Kau bebas, aku pun bebas.
Lalu kenapa?

Lelaki ...
Kau bilang kau lah Lelakiku,
Dan aku ragu ...
Kupikir kau lebih suka sendiri ... terus sendiri ... dan bermain-main dengan bayangan.

A.




|

Mataku

Ketika Norton Security Center terbaca Nonton Security Center,
Ketika "Masing siang", terbaca "Masing single"
Ketika Metro TV terbaca Metro Mini ...

Aku butuh kacamata.

Mataku,
Kata Abang mataku ekspresif.
Kataku, mataku butuh kacamata.
|

Dari Balik Tempurung Kaca

"Jadi aku hanya orang kedua!?"
"Bukan ... kau ... aku ... sulit menjelaskannya."
"Ya, sulit! Karena aku hanya orang kedua!"
"Melati, tolong ..."

-KRES!-

Aduh! Dia menendang, aku mengerang.
Dan aku terguling-guling, lantas pergi lagi ke sana, ke tempatku berlindung.

"Tuang arsenik ini dalam kopinya," bisik seorang perempuan.
"Dia ... kau mau dia mati?"
"Ya! Segera!"

-KRES!-

Kenapa mereka suka menendang-nendang bila marah sedang meraja? Dan aku harus kembali ke sana, ke tempat kuberlindung.

Dua purnama aku meringkuk, lutut tertekuk.
Dua purnama cerita demi cerita tersaji bak panekuk.
Dan aku ingin mati, membebaskan raga dari jiwa yang merasuk.

"Biarkan, Melati, biarkan ..."
"Kenapa dia mati?"

Tolong! Jangan tendang aku!

Tidak, dia tidak sedang dirajai marah. 
Dia sedang bersedih.

"Dia tidak pernah memenuhi janji, bahkan janji menjadikanku perempuan pertama dalam hidupnya!"

...

Namaku Katak,
Mereka bilang, Katak di bawah tempurung
Mereka tidak tahu ...
Dari bawah tempurung ini,
Aku dapat melihat dunia,
Karena tempurungku adalah tempurung kaca.

|

Cinta

Kalau cinta hanya tentang ...

Kau dan aku,
Romeo dan Juliet,
Adam dan Hawa,
Tuteh dan Ryan Gosling,
Rama dan Shinta,
Layla dan Majnun,
Orlando Bloom dan Tuteh,
Hitler dan Eva Braun,
Atau ... Mr. & Mrs. Smith ...

Maka celakalah dunia!

Cinta itu, seharusnya seperti ...
Upin dan Ipin,
Tangan dan airmata,
Atau ... seperti Orangtua dan anak #eh

*gagal puitis*

Saat Kelud murka ...
|

Menyulam Rindu

365 hari telah lewat
Kata, kalimat ...
Senyum, tawa ...
Kau alasan perasaan ini hadir

Kupikir kau akan mengatakannya
Lima kali purnama setelah ia ada
Tetapi aku hanya dicambuk harap
Bermimpi tanganmu mendekap

365 hari telah lewat
Bukan waktu sesaat
Memang ...
Aku gamang ...
|

Karena Saya Merasakannya

Apakah itu isyarat?
Atau ...
Mungkin itu isyarat ...
Pada malam yang riuh tawa
Saya pikir itu isyarat
Karena saya merasakannya.
 
Jump To Top