|

Catatan Kejam

Malam itu,
Ah ... bukan malam itu,
Tapi pada hari itu,
Kemudian aku menyadarinya.
Ya, pada hari itu.
Aku tegaskan ...

Aku membuat sebuah catatan kejam
Tentang perlakuan orang-orang kejam
Kekejaman mereka lebih tajam dari sembilu
Kau tahu sembilu?
Silet pun takkan sanggup melawan sembilu ...
Karena sembilu menyobek dengan kasat mata.

Mereka, orang-orang kejam yang berbuat kejam sehingga pada hari itu aku membuat sebuah catatan kejam,
Memang seputih salju
Kelihatannya ...
Dan aku terlihat seperti iblis [selip tawa]
Dan memang adanya aku terlihat seperti iblis, atau ibu tiri, atau seseorang yang pantas dibenci.

Satu per satu,
Rencana mereka berhasil.
Menghancurkan dari dalam,
Menarik diam-diam,
Dengan fitnah.
Kejam? Oh, tentu! Itu kejam.

Apakah kekejaman mereka membuatku gentar?
Ah, mereka bukan apa-apa ...
Bertindak dengan keterselubungan ...
Mereka bukan apa-apa, teman [selip tawa]
Karena keterselubungan akan menghasilkan keterselubungan yang lain.
Kau tahu pembunuh? Seperti itu lah. Atau pembohong? Seperti itu lah. Mengangkat derajat setinggi langit, seakan tak ada pula lumur dosa di bibir mereka [selip senyum]

Ketika mereka bertindak kejam,
Maka catatan kejam itu tertoreh ...
Dan catatan itu tak akan lekang ditelan waktu
Di dalam hatiku, catatan itu tertoreh dengan kejam, dalam, bak relief pada sebuah candi bisu.

Dan aku menunggu waktu
Ketika kekejaman mereka melumat habis diri mereka.

Maaf?
Tidak. Aku bukanlah si munafik pemberi maaf di bibir dengan hati menyerapah.
Maaf?
Mungkin ... nanti ... mungkin ... nanti ...

[tertawa lepas]
Catatan kejam,
Memang pantas untuk orang-orang kejam,
Yang bahkan menganggap diri lebih tinggi dari segalanya, lebih putih dari para Nabi, dengan topeng sebaik surga.

Dan, sekali lagi, aku menunggu waktu
Ketika kekejaman mereka melumat habis diri mereka.
Dan dunia membuka mata pada apa yang nampak dan apa yang terselubung.

*sekian catatan kejam :D

|

I Have a New Energy

Dulu,
Bisa saja onak duri ini menyurutkan langkahku,
Langkah menuju cahaya,
Menuju jalan kebenaran ...

Dulu,
Bisa saja aku menangis, juga meratap(!)
Saat kerikil di hadapan jalanku
Terlalu tajam ... kutakut darahku mengotori alam

Dulu,
Bisa saja aku berteriak marah
Lalu nafasku satu-satu ...
Betapa bodohnya ...

But now I have a new energy
Ya, energi yang meluruhkan semua
Dengan mengucap : Alhamdulillah :)
|

Lidah

Lidahku,
Sudah terbiasa melakukannya
Bertahun-tahun, berjilid-jilid.

Lidah mereka,
Begitu aneh terdengar di kuping
...
Aneh!
Itu saja.
 
Jump To Top