|

Label

Cinta itu seumpama panganan dalam stoples kaca
Berbaris di atas rak
Dan kau melabeli-nya :
... Kemarau
... Hujan
... Dingin
... Angin

Kau pasti termangu, lama
Di depan stoples berlabel : kemarau.
Ketika cinta seperti ikan kering
Dengan bau tak sedap

Kau tersenyum simpul
Di depan stoples berlabel : hujan.
Ketika cinta begitu basah
Ketika hidup begitu bersajaha

Kau menggigil di depan stoples berlabel : dingin.
Terus, terus kau menggigil
Merasakan dinginnya menusuk tulang
Sakitnya hingga membuat kau tewas dalam hidup

Dan kau kembali tersenyum, lama mengingat
Tentang angin di depan stoples berlabel itu,
Bahwa angin pun dapat membawa pesan untuknya,
Untuk dia yang kau cinta.
|

Setapak

Dahulu,
Kaki berdebuku menyusurinya
Lembab, rasanya seperti menginjak bubur

Dahulu,
Ubun-ubunku dilindungi dedaunan
Sejuk, rasanya seperti ditiup angin senja

Dahulu,
Aku bertemu roda-roda berputar dari sepeda ontel para tua
Mengingatkanku tentang para Pastur berdarah Belanda

Dahulu, yang kini semuanya musnah

...

Kecuali satu!
Ya, satu!
Kenangan ciuman kita di setapak ini
Selalu ada.
|

Di Kumismu

Aku gemas,
Melihat kumismu yang begitu itu ...
Di kumismu,
Ada buih cappuccino,
Laksana buih ombak di tepi pantai ...
Dan aku ... ingin melengketinya
 
Jump To Top