|

Love; Only a Word

Cinta; hanya sebuah kata yang terdiri dari lima huruf.
Hebatnya; empat huruf itu menguasai luasnya dunia.
Kuasanya; mampu menggenangkan air mata, dan kadang tak kuasa membendung tawa.
Kadang-kadangnya; cinta justru menjadi alasan ...

Perkara cinta memang unik.
Dalam takaran pas, ciamik.
Out of track, tragic.
Cinta ditolak, magic.

Ah, pandai apa aku bicara cinta?
Yang kutahu aku menyinta ...
Oh! Maaf, bukan dalam takaran segelas kekasih
Tetapi dalam takaran dunia ...

Karena cinta itu kuasa maha luas.

|

Slap!

Hari ini,
Kutampar kehidupanku,
Dengan kekuatan penuh,

Hari ini ...
Aku kembali belajar.

*terima kasih Tuhan*
|

Dara

Dara,
Kau pergi dengan cara yang aneh,
Kata orang-orang, cara kau pergi tidak keren.
Dan itu membuat si pemilik dara menangis

17 Agustus 2013
Si dara pecah, pergi, hilang
Lalu apa yang bisa kusampaikan pada pendamping kelak?
Ah ... seharusnya dia bisa merasa :)

Mungkin ini tulah karena aku terbahak-bahak, tentang orang itu,
Atau karena terlalu rakus mengais nasi tengah malam,
Atau karena memang sudah sial, sudah jalannya begitu ...
Entahlah.


*selaput dara itu ternyata koyak hanya karena jatuh di tangga ...*
|

Dirgahayu 68 RI

Bercak darah di tanah sudah lama kering,
Bahkan mungkin sudah hilang ...
Tanya, apakah kita pernah memikirkannya?
Tentang darah, keringat, debu,
Tentang bambu runcing yang dihunus
Atau juga tentang desingan peluru yang menghancurkan si bambu runcing?
Tanya, pernahkah kita?

Selamat ulang tahun Indonesia-ku :)
Banyak yang bertanya : sudahkah kita merdeka?
Saya bilang : SUDAH!
Karena kita sudah merdeka,
Hari ini saya boleh mengenal internet...

:)
|

Dia Mengamuk, Lagi ...

Ini seperti padang gurun dengan angin kering tak berkesudahan.
Ini juga seperti pemerkosaan anak terlantar yang persidangannya mungkin tak pernah ada. Keadilan bukan harapan.
Ini rasanya seperti permainan sangga alu. Meloncat, masuk, keluar, bernyanyi ... tak ada klimaks, tak ada kata selesai, sesuka yang memainkannya.
Ini adalah sebuah gunung yang begitu marah ... sayang kemarahannya tak tumpah sekali jadi.

Rokatenda  meletus lagi, saat itu, saat aku sedang bermain bersama anemon.
Ratusan jiwa harus diselamatkan, ratusan perut menuntut nasi, bulan lemon.
Bocah butuh sekolah, karena mereka bukan monyet yang bergelantungan di pohon.
Tapi yang berkepentingan juga ingin mereka pindah, memohon-mohon.

Ini bukan salah siapa.
Ini bukan karena apa.
Ini sudah maunya alam.
Seperti bulan pada malam.

Dia mengamuk lagi, delapan jiwa meregang.
Lantas ... sampai kapan?
Bahkan pertanyaan itu pun mendapat tanya yang sama ...
Sampai kapan bertanya?

Pada hari saat Gunung Rokatenda meletus ... lagi ...
|

Menyerah

Aku menyerah pada diammu
Aku menyerah pada acuhmu
Aku menyerah pada kekadang-kadanganmu

Tapi aku bukan sampan ...
|

Bapa ...

Sa rindu,
Su tigabelas tahun ni.
Su lama eee, Bapa
Tapi sa rasa macam ke baru saja

Sa rindu,
Deng Bapa pung lelucon
Biar sama tapi tetap sa lucu
Beking kami terpingkal-pingkal

Sa rindu,
Bapa, pelok dulu ...
Sa rindu eee ...
 Sa rindu koooooooooooooo!!!!
|

3 Agustus

Kami bernyanyi
Meski tak pandai
Suara kami seperti ini
Maafkan bila mendengar pun tak sudi

Double L, selalu seperti ini :)

*Lomba Vocal Group intra Kampus; Universitas Flores*
 
Jump To Top