|

Always Comeback to Your Love

Aku ingin kau seperti dia,
Laki-laki yang digambarkan Mumba dalam lagunya ...

No matter if I go left or right
I always comeback to your love

Karena dia, laki-laki itu, selalu menunggu
Selalu setia

Tapi mungkin kau tak inginkan perempuan seperti aku
Terlalu suka melangkah
Hingga letih bukan lagi kata yang layak kupakai
Hingga kau letih untuk menunggu

Sebenarnya kita saling mencinta atau tidak?
Masihkah ini hanya angan-anganku?

Lalu tawa bermuatan helium itu apa?
Untuk canda kita yang tak kenal batas dan angka

Aku terlalu naif ... dalam alam mungkin yang semu
Atau kau terlalu malu ... dalam alam ragu yang seharusnya tak ada

***merindui tawanya, ingin membauinya lagi dalam sebuah perjalanan.

|

Seperti Kemarau Tersapu Banjir

Melihatmu,
Dengan wajah yang itu,
Saya ...

Seperti kemarau tersapu banjir.
|

Gigiku Gemeretuk Bila Mengingatnya

Bukan karena dingin,
Tapi karena mereka kedinginan.
Bukan karena marah,
Tapi karena mereka terabaikan.
Bukan karena lapar,
Tapi karena mereka kelaparan.

Kapan Rasty boleh sekolah?
Kapan Chelsea terhindar dari alergi mi instan?
Kapan mereka dapat tidur di bawah atap yang layak?

Dan gigiku gemeretuk bila mengingatnya.


***sabar ya, dek ...
|

Twister

Setiap hari ada twister.
Di hatiku...
13 Mei, ada twister.
Di hatiku...
13? Kenapa dengan 13?
Ah ... itu hanya tanggal ketika aku menulis ini.
|

Jangan

Ayo. Maju. Kau mau 'kan?

Jangan. Kau tidak mau.

Kau mau ... ayolah!

Jangan. Kau tidak mau!

Kenapa? Kau ragu? Hei, setiap masa menyimpan jawabannya masing-masing. Kau harus mencoba.

Jangan. Jangan sakiti lagi dirimu sendiri.

Lantas kau mau hidup dalam asumsi yang ... bisa saja keliru?

Mungkin. Kenapa tidak?

Kau pesimis yang miskin dan kafir pada perasaan sendiri!

Tidak mengapa ... setidaknya ada yang dapat kunikmati.


***monolog aneh
|

Welcome, Mei!

Welcome, Mei!

Perlukah kuambilkan secangkir kopi untukmu, Mei?
Apakah kau membutuhkannya?
Perlukah kupanggang roti-roti cantik untukmu, Mei?
Apakah kau menginginkannya?
Atau ... perlukan aku bercerita padamu, Mei?
Tentang harapan anak-anak itu?
Mungkin tak perlu... karena... apakah kau mau mendengar?

Semua yang ingin kulakukan rasanya tidak perlu
Kau begitu diam ...
Kau lah yang akan menyiapkanku secangkir kopi,
Juga roti-roti cantik nan harum, juga tentang harapan.

Welcome, Mei.
We always have a big hope for life ...
 
Jump To Top