|

Dipeluk Bulan

Memang jauh, tapi rasanya begitu dekat
Mungkin karena keberadaan kau
Memang jauh, tapi rasanya begitu nyaman
Mungkin karena aroma kau
Memang jauh, tapi rasanya begitu senang
Mungkin karena kau tertawa
Memang jauh, tapi rasanya aku dipeluk
Mungkin karena aku yang memeluk

Bulan ...
|

Kuning

Terima kasih untuk kuning ...
Itu kuning ... terima kasih :)
|

Terbakar

Beginilah rasanya terbakar
Harus dibebaskan...
Keluar ... keluar ...
Jangan rasakan itu lagi

Tapi kadang sulit ... karena perasaan kadang bekerja tanpa mendengar perintah otak.
|

Wilayah Abu-Abu

Kita berada di wilayang abu-abu
Saya berada di wilayah abu-abu, bukan kita, sebenarnya
Bahkan memang tidak ada kita
Hanya saya yang berharap ada kita
Tetapi kita tidak ada ... hanya ada saya

Saya yang berada di wilayah abu-abu
Tercenung dengan diri sendiri seumpama uap kopi di pagi hari
Terlalu lama abu-abu lantas enyah
Tapi saya tidak ingin impian tentang kita itu enyah
Mungkin saya terlalu banyak berharap untuk kita
Seumpama pungguk merindukan bulan, sebuah klise

Kita ...
Sama-sama suka tertawa
Kau suka tertawa
Kucatat itu dalam memoriku tentang satu ekspresi tertawa
Itu punya kau

Kita ... atau kau?
Mungkin sama-sama tidak bisa menjadi kita
Masa lalu terlalu lekat ibarat bocah bergelayut pada paha emaknya
Tidak bisa melupakan, untuk tidak bisa memulai
Kalaupun kau mau memulai sebuah buku baru
Mungkin juga bukan aku yang akan menjadi kita dalam benak kau

Saya berada di wilayah abu-abu
Tetapi perasaan saya tidak bisa menjadi abu-abu demikian cepat setelah tahu kau masih belum melupakan masa lalu ...
Perasaan ini bukan abu-abu, saya rasa
Perasaan ini punya satu ketentuan
Sepasti dia percaya pada firasat dan pertanda
Meski firasat dan pertanda itu pun hanyalah abu-abu yang tak jelas


*saya rindu kau, kau yang menjadi 'dia' dalam sebuah panggung ... saya rindu berada dalam rengkuhan tatapan mata kau yang teduh ... saya juga rindu saat kau bagi tawa dan cerita tentang segala yang ada dalam hidup kau ... saya menyintai terlalu salah ... dan akan gagal.



|

Mereka Mati

Kemudian mereka mati
Luluh lebur bersama bumi
Tidak ada yang menangis
Semua sibuk dengan rejeki yang terkais

Dua. Mereka mati
Katanya asam lambung terlalu ganas
Naas
Lapar setelah pesta ini

Dua. Mereka mati
Mati karena lapar?
Padahal pesta itu!
Itu ada pesta!

Kertas-kertas dengan simbol
Apa guna bila hanya untuk membeli kertas dan tinta?
Pertanda rasa peduli semakin menipis
Seperti pendaki gunung kekurangan oksigen di puncak salah satu Karakoram

Untuk dua. Yang mati
Selamat jalan wahai saudara ...
Kepergian kalian adalah bukti
Tentang ketidakpedulian

(untuk mereka, dua yang mati, #Rokatenda)

*menangis bukan berarti cengeng ketika dua pengungsi korban meletusnya Gunung Rokatenda meninggal karena kelaparan.
|

Sumber Air Masih Jauh

Percik-percik yang mendebarkan itu harus diperciki lagi dengan air agar tak membara. Agak menakutkan bila dia kemudian membara ... semakin sulit untuk memadamkannya karena sumber air masih jauh.

#GagalPuitis
|

Memaki Kebisingan

!@#$%^&*()!!!

Apa kalian tidak paham?
Ini sudah malam!
Suara kalian seperti tomat masam!
Tolong redam!
|

Tentang Aku

Tentang aku yang melupakan kau
Untuk pergi dengan sisa-sisa kenangan
Tentang aku yang merindukan kau
Dengan sisa-sisa kenangan yang buram

Masih, tentang aku ...
Kaca-kaca itu begitu kotor dan bau
Masih tentang aku yang terhempas
Kusen-kusen itu menertawai, meledak

Sehabis itu, aku tidak mau meraung
Apa guna?
Memerdekakan diri dari kenangan buram
Sebaiknya begitu ...
 
Jump To Top