|

Touching Earth

Bila kita ...
Ah, sebenarnya tidak ada kata : kita
Yang ada hanya kau dan aku
Sejak semula aku bermimpi semu

Menyenangkan ketika akal kembali menyentuh bumi
Bagiku, logis dan masuk akal ketika aku selesai membaca gejala
Tapi tak kupungikiri telah menikmati sensasi melayang di angkasa
Ketika aku berharap itu terjadi ... itu terjadi ... dan itu tidak terjadi

Bila kita ...
Boleh lah aku berandai-andai saat akalku menyentuh bumi
Bila kita dipersatukan Tuhan pun rasanya aku tak akan sanggup
Bukan karena perbedaan melainkan karena perasaan

1/4 liter darahku menyebut nama kau
Selebihnya memberontak, menyeret akal kembali ke bumi
Akhir Februari yang pasti,
Sepasti esok akan datang tanggal 1 Maret.

Kau,
Terima kasih :)
|

Lupa

Aku lupa tentang dia
Jadinya kutelusuri saja sendiri semuanya
Lantas ada yang menganga
Memorinya ...

Jadi,
Kupikir harus kutinggalkan
Jalanan padat kendaraan
Kau, dia, semuanya

Kemudian aku merasa bebas :)

*masih tersenyum untuk hal-hal gila dan aneh*
|

Rusty

Hari ini Rusty datang,
Hembusannya seperti berasal dari mulut raksasa.
Apa-apa yang disukai maupun tidak, terbang, melayang.
Orang-orang berteriak : Rusty kejam!
Tetapi Rusty tidak mendengar. Ia juga buta.

Saat Rusty datang aku mengingat kau.
Keping tawamu masih menyisa di ujung memori.
Kenapa aku selalu merindui tawamu?
Kenapa bukan senyummu?
Bukankah senyum lebih terkesan romantis?
Mungkin karena terlalu banyak manusia yang menggunakan kata : senyum.

Rinduku pada tawamu seumpama Rusty.
Juga seumpama anjing menyalak-nyalak, selalu menyalak tetapi tak jelas untuk siapa.
Rinduku pada tawamu sepertinya harus kubungkam,
Karena kau masih menyintai dia yang lain.
Aku seakan tidak berada di hadapanmu.

Masih, sampai hari ini, aku bertanya-tanya,
"Apakah ini karena dosa menyukaimu sehingga aku terhempas-hempas laksana sampan?"
Sebagian orang berfalsafah tentang dosa...
Dosa ketika kita menodai persahabatan.
Orang-orang itu ... apakah pernah membaca kalimat yang kutulis? Cinta akan tetap terasa manis meskipun datang pada saat yang salah dan saat kita berpikir orang itu bukan orang yang tepat.

Astaga ...

Dan aku meracau terlalu berani ...
|

Hujan

Mendung memang tidak punya sayap, tapi ia akan terbang melalui hujan.

Langit memang tidak akan berbincang dengan tanah, tapi ia akan menyampaikan pesan Dewa Petir melalui hujan.

Lantas bagaimana hujan sendiri? Ia hanyalah pembawa pesan yang dirutuki ketika datang saat manusia berseragam hendak menghormati upacara bendera di suatu pagi.

Dan kita masih berharap pada para pembawa pesan hingga liang itu menganga.
|

Kutinggalkan Kau

Sabarku telah hilang,
Saat kau menyebutku : jalang!
Marah melayang-layang!
Setega itu kau memandang,
Padahal belum juga kau kuundang.
Dini hari adzan berkumandang,
Otakku meradang ...
|

Pipi Arbei

Kata orang pipiku seperti buah arbei.
Rasa sanggup menghadirkan cetak arbei di pipiku.
Kusyukuri ketidaktahuan mereka, juga kau,
Setiap ada kau, pipiku bersemu seperti arbei.
|

Tulangku Sakit Bila Mengingatmu

Sakit.
Rindu menyakitkan semua tulang.
Aku ingin memintamu datang,
Untuk kita bercerita tentang petang,
Untuk tawaku yang gamang.
|

New Oxygen

Kau oksigen.
Lagi, oksigen yang baru.
Bagiku.

Sebenarnya aku tidak perlu mencari.
Kau selalu ada.
Pasti.

Sebenarnya kau masih mencari.
Aku tidak selalu ada.
Pasti.

Tapi kau adalah oksigenku.
Yang baru.
Yang selalu ada.
Yang mencerahkan kuning saat temaram.

Aku cinta kau.
Tapi kau tak mendengar.
|

Sebab Kita Manusia

Pikiranku tidak pernah selesai
Apa yang kupikir
Apa yang kuimpi
Apa yang kuharap
Tidak pernah selesai!

Sebab kita manusia ...
Suara itu kudengar.
SEBAB KITA MANUSIA!
Ketika berpikir, bermimpi dan berharap,
Itu karena kita manusia.

Kupikir ini akan menjadi kewajaran.

*kadang berharap terlalu banyak akan membunuh harapan itu sendiri... itu yang kutakutkan sejak merasakan sesuatu yang aneh di dalam jiwaku ketika melihatmu.
|

Screaming The Void

Kalau aku boleh bicara,
Tapi ... bolehkah?
Kuijinkan diriku sendiri untuk bicara.

Masih, tentang cinta.
Musykil dibicarakan saat tengah hari,
Tapi ... boleh kan?
Selama matahari masih ada di sana.

Aku takut untuk mengakui,
Tetapi sudah kuakui.
Benihnya menggeliat mencari hari
Benihnya menggeliat menuju hati

Hatimu ...
Cinta memang misterius.
Ketika rindu mulai memainkan rinai hujan,
Aku dan semua sendiku tertahan.

Ini bukan dosa,
Kuyakinkan diri!
Tapi ini juga bukan jalanku...
Jurang itu akan tetap menganga.
 
Jump To Top